I
Malam baru saja melewati puncaknya, secangkir kopi yang nyaris dingin belum habis disruput dan masih bersisa separuh. Berteman rokok merk tingwe klembak menyan malam menjadi sangat berkabut. Ya, tingwe menambah kabut dan sejujurnya membuat mual. Tetapi kupikir bolehlah sesekali memualkan diri, toh hanya mual.
Kata siMbah, menikmati tingwe yang mbekok’i, haruslah sabar. Asap harus dihisap pelan dan sedikit demi sedikit. Kalau tidak, tenggorokan akan tercekik dan paru-paru serasa bengkak mau meledak. Belum lagi, gliyengan yang kemudian merambat di kening. Tetapi dibanding mat-matannya, wuihhh… Sengsara itu impas.
Aroma tembakau, kemenyan, cengkeh dan klembak yang terbakar serasa membangkitkan kenangan. He eh, kenangan magis memanggil dhemit.
“Setan !! Sapa sing wengi-wengi udud menyan kiye. Arep semblothongan apa?”Busyeeeet..bukannya demit yang muncul, tetapi malah siMbah yang pecaca-pecucu komplain aroma menyan.“Goblok, kaya ‘ra ana rokok bener ‘pa, mbako setan di udud’i. Ngeneh nyong njaluk, semotan!!”
Tanpa ba-bi-bu rokok racikan yang kupegang diserobotnya. Dan mak buuulll..!!! Asap menggelontor dari mulut dan hidungnya. “Halah siMbah bikin kaget saja. Buntut-buntutnya ajeg, numpang nyedot”
Ah, simbah masih semau-mau saja. Seolah tak cukup merampok tingwe yang semata wayang, matanya melirik ke cangkirku. Dan sruup… tandaslah isinya.
“Merdeka mbah” ujarku asbun karena gondok.
“Merdeka gundulmu menyonyo!! Merdeka dari Hongkong” Simbah langsung nyolot sambil menirukan sebuah iklan rokok.
“Lah, bukannya kita memang merdeka toh” ujarku santai. “Setidaknya kemerdekaan yang dinyatakan Sukarno bagi bangsa ini adalah revolusi”
“Mimpi kamu, jika membayangkan merdeka 45 itu bak revolusi 1917 di lapangan merah. Ngomong begitu dasarnya apa goblok?”
Sialan niy siMbah, ngomong siy ngomong tapi kan nggak perlu bawa-bawa trade mark dong. Tak terima di goblok-goblokan, aku menangkis dengan nada tak kalah nyolotnya. “Lah bukankah keduanya sama-sama digerakkan oleh secuil elit. Lenin dan partainya itu minoritas, persis Sukarno-Hatta yang mengaku dan mengatasnamakan nasion Indonesia. Memangnya siapa yang memberi mandat pada mereka berdua. Nggak, nggak ada itu. Tetapi mereka berfikir, berembuk lalu memutuskan. Dan jangan lupa, momentum berpihak pada mereka”
Busyet-busyet, alamat bangunin macan tidur niy, pedahal setahuku macan mengaum hanya untuk menggigit.
“Ngerti apa koe, betul Lenin dan partainya adalah secuil elite. Tetapi toh mereka mewakili sebuah kelas yang selama ini tertindas, lagipula revolusi seperti 1917 adalah keniscayaan sejarah”
Tuh kan betul, macannya mulai pamer taring dan bersiap menggigit. Bahaya.. bahaya… Tetapi, berhubung terlanjur panas, sikat saja sekali-kali ngeyel ama orang tua mungkin tuhan tidak marah toh.
“SiMbah yang lupa!! SiMbah pikir merdeka ala Indonesia hanya berarti bagi Indonesia saja. No.. Noo!! Merdeka ala Sukarno juga kiniscayaan sejarah, sebagai anti-tesis dari kolonialisme. SiMbah lupa? Filipina kemudian merdeka tahun 46, Birma 47, Malaysia 57 dan walau telat, nyaris semua negeri di Afrika dan Amerika Latin merdeka pada era 60-an. Sempit bila berpikir merdeka 45 itu hanya berguna untuk Indonesia saja. Setidaknya proklamasi kita itu memberikan inspirasi bagi kemerdekaan mereka”
“Apun yang kau katakan, merdeka 45 mu itu tak lebih dari “mimpi” elit untuk punya pemerintahan sendiri. Bila semangatnya hanya lepas dari penjajahan bule, santai saja. Toh nyatanya bagi dunia yang bergerak cepat barang dagangan bernama kolonialisme itu sudah tak laku lagi”
“Dan si Sukarno ini kan…” seolah tak rela kehilangan kesempatan SiMbah melanjutkan terus, “si oportunis, bagi dia prinsipnya sederhana. Selamat dulu dari Jepang, Nica dan Sekutu, masalah nanti dipikirkan bagaimana nanti. Ya, dengan cara itu pemerintahan sendiri bisa di dapat. Tetapi pemerintah sendiri dengan rakyat yang separuhnya buta huruf apa bedanya dengan penjajahan lagi. Ingat kamu, ketika Jepang berbondong-bondong menyerbu dari utara? Apa yang dilakukan Sukarno ? Tak ada goblok. Alih-alih menjadi panutan, dia malah enak-enakan numpang kapal perang mereka untuk kembali ke Jakarta? Cukup itu? Belum, bahkan kemudian dengan gaya co-nya dia sukarela kerjasama toh. Hingga menyerahkan beratus-ratus ribu kromo menjadi romusha?”
Pelan-pelan kucerna kata-kata siMbah, banyak benarnya sih.
“Tetapi…..” Whueeeeek, pantes senyap ternyata setelah menghabiskan amunisi terakhirnya siMbah tertidur manis di risban kesayangannya.
II
Gabrukk!! Setumpuk buku terjun bebas dipangkuanku. Minggu pagi yang indah buyar dengan ceplosan siMbah.
“Angger kelalen waca maning kiye, kon ora goblok bae” Ah, siMbah ternyata masih masgul dengan obrolan semalam. Kutelisik satu-satu, Engels, Mark, Lenin dan karya Tan Malaka, busyeeet cape deeeh. Pethongsot, siMbah sudah didepanku. Dan seperti biasa berkuasa atas risban-nya.
“Sing mau mbengi ditutugna maning ayuh!!” Ujar siMbah setengah merayu.
“Apalagi Mbah!! Mbah mau bilangkan, bahwa semestinya bangsa ini berpikir seperti Tan Malaka dengan merdeka 100 percentnya, begitukan? Tetapi kondisi objektif apa yang memenuhi syarat? Nggak, bahkan siMbah juga tahu, pra-syarat itu tak pernah tercipta kan?”
“Sukarno mungkin benar, dia berpikir bayi prematur bernama Indonesia ini tak pantas mati muda. Bayi tanpa daya ini sama sekali tak bermodal, modal senjata dan tentara, kecuali sebagian eks-peta dan laskar-laskar yang bermodal semangat. Zonder angkatan laut dan angkatan udara. Sementara siapa yang dihadapi? Mc Arthur-kan? Ya, dia yang beberapa sebelumnya sukses menghajar pasukan kate dimedan pasific. Lalu taktik cerdik licik apa yang bisa dilakukan Sukarno cs selain berdiplomasi? Atau jangan-jangan siMbah justru menyarankan kita ber-masturbate dan membayangkan bambu runcing bisa merobek lapisan baja tank-tank sekutu? Mimpi!!”
“Kenapa tidak? Justru massa rakyat harus diberi suri-tauladan keteguhan hati menghadapi marabahaya toh? Lha ini, yang dipikirkan mereka kan hanya selamat saat itu, inilah pendidikan buruk?”
“Dengan kata lain siMbah waktu itu menginginkan tentara yang pegang kendali?”
“Itu kesimpulan bodoh dan Goblok!!” SiMbah kembali nyolot lagi, bahkan kali plus bonusnya. Yakni semprotan ludahnya plus aroma pete. Whueekkk.
“Pendidikan politik apa yang bisa didapat dari eks-peta yang jelas-jelas dididik secara fasis, atau ilmu apa yang bisa di unduh dari laskar-laskar yang fanatis itu. Tak ada sedangkan bila mengandalkan didikan KNIL jelas mereka apolitis dan bajingan toh!!”
“So?” Pertanyaanku sengaja aku gantung.
“Coba apa hasilnya ketika kita percayakan nasib bayi prematur bernama Indonesia ditangan para kompromis-kompromis itu. Pasca KMB kita dapat warisan utang dari Hindia Belanda 4 miliar dollar dan penangguhan penyerahan Irian kan? Yang terjadi kemudian apa? Eksperimen ala liberal alias proyek bagi-bagi kapling kan? Belum lagi ditambah dengan nafsu berkuasa Sukarno makin lama makin tak bisa ditutup-tutupinya toh?”
“Memangnya jalan yang ditawarkan Tan Malaka juga pasti obat yang mujarab, sama-sama petualangnya toh” Nggak tahu kenapa, aku menjadi ikut-ikutan siMbah yang mengakhiri kalimatnya dengan kata toh. Biar akrab kali ya…
“Bukan, bukan itu! Masa-masa mereka sudah lewat, dan tak lebih dari cacat sejarah, toh senyatanya kita tak bisa kita membaliknya. Biarkan para ahli sejarah saja yang meributkan masa-masa itu. Yang ingin kutahu pendapatmu adalah, bagaimana caramu memandang kedepan”
“Halah, sok merendah niy siMbah, mBah juga tahu bahwa justru masa-masa itulah yang akhirnya membentuk kekinian. Dan kekinianlah yang membentuk masa-masa depan”
“Ya, wis sekarepe ko’e bae, kaya kuwe ko’ ngotot pethentengan” ujar siMbah yang tumben-tumbenan kali ini turun drastis nada ngomongnya.
“Merdeka uwis, perang musuh Landa wis, perang karo bala dewek uwis , apa maning sing urung jajal”
(Ah, maaf ya sebetulnya si belum beres. Tetapi tahu sendiri kan kalau malas dan ngatuk datang bareng-barang. So, untuk sementara dicut-kan segini dulu. Nyambung kapan-kapan ya….)
Cablaka ala Banyumasan
“Setan !! Sapa sing wengi-wengi udud menyan kiye. Arep semblothongan apa?” “Setan !! Siapa yang malam-malam merokok kemenyan ini. Mau main-main apa?”
“Goblok, kaya ‘ra ana rokok bener ‘pa, mbako setan di udud’i. Ngeneh nyong njaluk, semotan!!” “Goblok, seperti nggak ada rokok biasa apa, tembakau setan di rokok. Sini aku minta sesedotan”
“Angger kelalen waca maning kiye, kon ora goblok bae” “Kalau lupa baca lagi ini, biar tidak goblok lagi”
“Sing mau mbengi ditutugna maning ayuh!!” “Yang tadi malam ayok dilanjut lagi”
“Ya, wis sekarepe ko’e bae, kaya kuwe ko’ ngotot pethentengan” “Ya, sekarang terserah kamu, begitu saja kok ngotot tarik urat”
“Merdeka uwis, perang musuh Landa wis, perang karo bala dewek uwis , apa maning sing urung jajal” “Merdeka sudah, parang melawan Belanda sudah, Perang dengan teman sendiri sudah, coba apalagi yang belum?”