Tuesday, December 04, 2007

Masku

“Aku kegep Guh” ujarnya pelan sambil menunduk. Entahlah, mungkin ingin menyembunyikan matanya yang tiba-tiba basah, atau lebam biru-biru diwajahnya.

“Kok bisa?” aku bertanya o’on.

“Mbuhlah ‘ra mudeng”

Bencana itu bermula dari kedatangan bosnya. Jhonsen pengusaha kakap di Dumai. Seperti biasa, dialah yang kemudian menjadi pemandunya selama di Jakarta. Setelah beres urusan menjelang tengah malam. Dia pamit sebentar. “Ketemu teman” begitu ijinnya.

Sebuah paket dari Erwin diterimanya di Hayamwuruk. Baru kemudian dia bergegas meluncur ke Ancol menggunakan taksi. Mobil ditinggal di basement Ibis Mangga Dua.

“Bajingan Erwin jebul’e cepu” rutuknya. Tentu saja, di Ancol dia sudah di sanggon preman. Setelah paket berisi seribu butir vitamin aman berpindah tangan. Dia digep menjelang taksinya memamasuki pintu tol. Hujan pukulan tentu saja. Dan gagang beceng berjejak di keningnya dengan warna biru menghitam.

Semuanya kemudian menjadi tak mudah lagi sejak itu. Anak pertamanya diungsikan ke pesantren karena malu. Bungsunya rawat inap di Husada sebulan karena sawananti. Dan istrinya bertambah kurus pontang-panting cari biaya. Dia sendiri setelah menginap dua bulan di polres Jakarta Utara babak belur dan pindah ke Salemba dengan menganthongi delapan tahun vonisnya.

Kau kenal dia Guh, BeDe dari kota itu? Penjahat itu yang nongol di liputan enam siang?

Tentu saja aku kenal dia. Dia kakak iparku. BeDe? Penjahat? Persetan sebutan itu!! Dia kakakku. Dia baik padaku dan baik pada semua orang. Akan tetap begitu. Dan tetap kakakku. Selamanya. Dialah yang selalu kuanggap malaikatku. Malaikat yang selalu ada ketika dibutuhkan.

Dialah yang mengulurkan tangan ketika di keningku bercap gagang revolver. Aku lebih beruntung. Iwan di disetrum dan bang Rizal di kaing dengan tubuh berlubang-lubang. Ya, dua q sayur memang layak dipertaruhkan.

Pahlawan

Matahari tepat diatas kepala. Panasnya yang membakar menyulut api dikepala. Perciknya meloncat memanaskan otak. Angin mati dalam geraknya. Inilah panas yang paling menyebalkan dan selalu menyebalkan. Ubun-ubunku membara. Panas itu merambat pelan menuju mata. Asap tipis mengepul lalu mengabur. Bintang dan kunang menari-nari meledekku.

Wueks… dari pada bengong dan membiarkan otak terbakar joroknya matahari. Lebih baik menikmati surga. Stop jangan salah sangka dulu!! Surga diotakku bukan sungai yang mengalir susu dan madu. Bukan juga tempat mejeng empat puluh bidadari yang selalu perawan.

Surga untukku dipanas yang menyengat ini simpel dan murah kok. Yups, berteduh di kerimbunan. Segelas besar air kelapa muda plus es batu, sebatang rokok kretek, novel picisan dan risban di bawah pohon mangga. Nyuaaaaman….dan mak nyussss. Selalu aku cukupkan begitu surgaku.

Setelah kedengselan manjat pohon kelapa. Yang entah mengapa kali ini susah sekali ditaklukan, kelapa muda itu berdebam mencium bumi. Mengupasnya dan beranjak membongkar kulkas. Dapat deh, bongkahan-bongkahan batu dingin itu. Sip!! Rucuh dawegan siap. Tinggal menuju istana. Risban teduh di bawah pohon mangga.

Gandrikkkkkkkk!!! Samber Gelap!!!

Di risban impian, sosok tubuh meringkuk manis. Plus dekurnya yang membahana laksana kereta Jepun. Siapa lagi beliau kalau bukan satu-satunya pepunden yang aku hormati. Tebak siapa yang mengangkangi risbanku? Betul. Simbah tercinta si jagoan neon yang sok tahu dan yang noraknya naudzubilaah mindzalik.

Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

Sekonyong-konyong teriakan membahana. Anjriiit!! Tiga kali lagi!! Tentu saja aku meloncat terjengkang-jengkang. Es kelapa muda tumpah ruah dan rokok kretek mencelat entah kemana. Ngingau siy ngigau, tapi mbok ya jangan pakai pekikan ala jaman dursetut gitu dong!!

Waladalah, simbah lagi mimpi apa tumben-tumbenan heroik. Biasanya, jangankan berteriak merdeka dengan gegap gempita. Hormat bendera saja sejak KMB dia ogah-ogahan. Bahkan sejak itu semboyannya berganti. Meniru Tan Malaka sampai sekarang, dia hanya mau berteriak “Merdeka 100 percent!!”. Entah apa maksudnya.

Menatap matanya yang setengah terpejam, membuat niatku memaki urung. Bagaimanapun dia punden yang harus dijunjung tinggi tanpa reserve. “Nglindur mbah?” bisikku pelan di telinganya yang -maaf- sudah budi.

“Sampun mbah wungu, mboten kewes padang nggenthang nglingker ngandap wit pelem”

Perlahan badan ringkihnya menggeliat. Diiringi bunyi gemeletuk tulang belulang rapuhnya, beliau menyahut pelan. “Kowe guh, ana apa?”

Matanya masih setengah terpejam. Namun mata itu langsung membuka penuh melihat tumpahan es kelapa muda yang menggiurkan.

“Goblog!!! Panganan di sia-sia” betulkan pembaca? Memorinya langsung full bila matanya melihat makanan. Kalau sudah begini, gaya main perintah ala Deandless tinggal menunggu waktu.

“Cepetan nganah gawe siji maning”

Anjritt!!! Niat bersantai musnah. Setengah mati, ritual konyol itu terulang. Manjat kelapa, memetik satu dua, mengupasnya, mendobrak kulkas dan sip jadilah. Dua gelas besar es kelapa muda. Satu untukku. Satu untuk Raden Ngabehi Loring Kuburan, alias simbahku yang tercinta.

“Guh, kowe kelingan Kumbokarno?”

Hah..Bayangkan pembaca!! Es kelapa muda mungkin tepat untuk siang yang panas ini. Tetapi Kumbokarno? Jaka Sembung bawa golok mbah. Tentu saja si Jaka Sembung itu hanya dalam hati. Karena kemudian meluncur dari bibir adalah kata-kata Sengkuni si penjilat

“Ya, ada apa dengan beliau mbah?”

“Siki tanggal 10 November ya?” Wakakaka… mulai menjulur deh benang merahnya.

Tebakanku, simbah pasti sedang melow terkenang-kenang jaman polisionil. Aku langsung ngedap. Bagaimana tidak, obrolan selanjutnya pasti tentang front Ambarawa, front Semarang, dan front-front kacrut lainnya.

Ah, mudah-mudahan kali ini aku salah. Bagaimana tidak bosan pembaca? Setiap tahun cerita sama diulang-ulang. Cerita tolol tentang kumpulan makhluk tanpa cela.

Yups, tentara nasional yang haibat. Begitulah yang dicekok’an padaku dari ruang publik. Belum lagi ditambah cerita simbah tentang semua frontnya. Duh. Cape deh…

Tetapi biarlah, sekali ini kusenangkan simbah. Memancingnya, aku lempar pertanyaan o’on.

“Tapi 10 November dan Kumbokarno apa hubungannya mbah?”

“Dasar goblog!!” Halah ini orang, di kasih hati keluar goblognya. Sabar, sabar.

Berhasil dengan sabar, aku ngakak lagi memungut makian thengilnya. Tentu saja aku paham betul beliau si Kumbakarna ini. Kumbakarna tahu, kakaknya Rahwana adalah tokoh antagonis dalam cerita Ramayana. Tetapi, Kumbakarna punya alasan shahih untuk menutup mata terhadap kebenaran. Cinta tanah air, begitu pikirnya. Dan dia maju berperang melawan wadyabala gabungan Guakiskenda dan Ayodya.

Cinta tanah air adalah darma satria begitulah jalan pikir Kumbakarna. Dan dia bertempur tanpa banyak tanya. Ya, hanya berperang. Mengusir mengusir agresor, apapun alasannya. Right or wrong my country. Akhir cerita kemudian jelas toh? Alengka tetap jatuh dan Kumbakarna mati dengan badan terpotong-potong dimutilasi panah Rama.

“Kecintaaan pada tanah air apakah bisa sebuah alasan untuk mengingkari kebenaran?” tanyaku pada siMbah. Kebijakan negara sangat mudah dipelintir menjadi kebijakan penguasa. Dan kebenaran tentus saja subjektif.

“Dosa apa Kumbakarna dan rakyat raksasa Alengka hingga harus mati dalam membela Alengka. Toh cerita sebenarnya bermula dari syahwat Rahwana?” Aku melanjutkan gugatanku pada siMbah.

“Memangnya kebenaran juga melekat pada si Rama?” siMbah menjawab nyolot.

“Lalu siapa pahlawan dan siapa bajingannya?” tanyaku menyela.

“Hei, wake up goblog!!!” waduh kali ini si mbah mengumpat.

“Pahlawannya tentu saja semua yang tak bernama. Munyuk-munyuk dari Gua Kiskenda dan para raksasa anonim dari Alengka itu. Kamu tanya bajingannya?” Tanya simbah menggantung.

“Bajingannya tentu saja para tokoh-tokoh itulah. Semua tokoh. Kedua belah pihak. Rahwana, Kumbakarna, Wibisana, Prahasta, Sarpakenaka itu bajingan dari Alengka. Sementara bajingan dari Guakiskenda dan Ayodya tentu saja Sugriwa si kapitulator, Anoman, Anila, Anggada, Rama, Laksamana. Merekalah yang selalu memanfaat lubang patriotisme untuk kepentingan mereka sendiri”

Hi.. hi.. dalam hal ini aku sepakat dengan simbah. Nama-nama bajingan itu mengingatkanku pada Sudirman, Simatupang, Nasution, Suharto semua hanya nama-nama buruk yang pernah dilahirkan negeri ini.

“Simbah masuk golongan mana?” tanyaku jail. “Kumbokarno, Wibisana, Mc Athur, Suharto atau penganut jalan tengahnya Nasution?”

“Bajingan kowe” Wakakak, mengumpat lagi dia.

“Walau dididik Peta. Aku adalah tentara profesional. Dan catat satu hal!! Nasution dengan jalan tengahnya adalah petaka bagi negeri ini”

Wuih. Sip dan masuk akal siy. Jalan tengah memang embrio, dan embrio itu membentuk janin yang kelak bernama dwifungsi. Dan dwifungsi adalah mantra atau tiket terusan bagi surga Indonesia. Yups, jalan tengah adalah petaka.

Tentang simbahku ini, dia memang tentara ganjil. Karirnyapun ganjil. Dididik Peta, tetapi tidak menjadi totaliter. Kemudian masuk TKR, dan menjajal semua front di seantero jawa. Lalu memilih lepas bedil ketika KMB diteken. Jadi petani dia.

“Simbah merasa pahlawan?” tanyaku norak.

“Pahlawan dengkulmu penyok!!” Nyolot lagi dia.

Memanasinya kulanjutkan dengan pertanyaan seronok. “Dapat pensiun berapa mbah”

“Bajingan” Wakakakak, makin panas dia. “Aku merasa jadi pahlawan hanya untuk mbah putri dan bapakmu”

“Halah itu mah pahlawan keluarga”

“Goblog maning kowe, kawit kapan si kowe utek’e dadi mblondo kaya kuwe. Lambemu nyocote wis kaya lambe pamarentah”

Terlalu menggebu-gebu dengan simbah, lamat-lamat kumandang azhar menggugat.

“Nggazhar disit ya inyong” pamit simbah kalem.

Sejuta topan badai, pertanda alam apa ini? Simbah sholat????

Kadiroen

“Waktu mengambil alih SI Semarang di tahun 1917, dia baru delapan belas tahun. Bayangkan delapan belas tahun!! Separo umur dari Tjokro, boss CSI -satria dalem perlindungan pamerentah-, seumurnya Darsono dan Tan Malaka. Aku takon? Kowe lagi ngapa ketika umur delapan belas tahun? Pacaran ? Apa malah lagi demen-demen’e nguntal pil koplo karo beksan gaya keratonan ?”

Ah, ini mBahku lagi. Masih biasa, ceblang-ceblung gaya cablaka khas Banyumasan. Nuwun sewu poro piyantun, saking Ngayogjo lan Surokarto ingkang langkung karem angglembuk lan andremimih. Maklum siMbah meniko asli putro tanah perdikan kang mboten kagungan sultan, dados nek angendiko namung waton mangap. Tetapi berhubung topiknya bagus, kulayani uneg-uneg siMbah plus sumpah serapah ala kebon binatangnya.

Semao’en ya? Semao’en… ? Treeeett….treeeet… procecor pentium I , out to date di otakku bekerja keras. Lahir di di Mojokerto 1899, anak tukang batu di jawatan kereta api, gabung SI Surabaya ketika masih 14 tahun, berbelok ke ISDV dan VSTP afdeling Surabaya, jurnalis, terus pindah ke Semarang lalu di buang ke Belanda, berteman akrab dengan Stalin dan wafat 1971. Sip!! Lumayan.

Memancing siMbah kulempar pernyataan norak.

“SiMbah kelalen apa? Selain dia memang genius dia juga bertemu dan dididik oleh orang-orang top dijamannya. HW Dekker dan Snevliet si “Belanda dengan sifat manusiawinya yang tulus dan bebas dari mentalitas kolonial” jatuh hati pada jagoan kita kan? Merekalah yang memahat kayu mentah itu menjadi ukiran yang indah. SiMbah dimana jaman-jaman itu. Ikutan BO? Wakakakaka!!!!”

“Weduuuus gimbal, luthung gemblung!! Segoblok-gobloknya siMbahmu ini, sorry ya ikut perkumpulan jawa narsis geblek itu”

He…he…Tepatkan pembaca!! Simbah langsung meledak bila dikait-kaitkan dengan kejawaanya. Apalagi dikaitkan dengan cita-cita Jawa Raya.

“Lalu Mbah mau cerita apa tentang Semao’en ini?” tanyaku pura-pura bego aja.

“Gak, gue cuma pengin bandingin tokoh kita ini, dengan genre MTV dan sinetron jaman ini. Dia delapan belas tahun sudah bergerak mencitakan Hindia untuk Hindia. Sementara generasi sekarang. Seumuran itu kalau nggak tawuran, ya memilih berurai airmata di depan TV”

Wakakak, Gue? Memanggil dirinya sendiri dengan gue? Kumat apa niy siMbah? Jangankan menjadi Batavian, menyebut Jakarta saja siMbah sudah alergi setengah mati dan memilih menyebut Sunda Kelapa. So, ada angin apa Mbah?

Oke, forgeted angin yang lagi meniup siMbah, kembali ke tokoh kita, aku menyahuti komentar terakhir simbah begini ; “SiMbah nggak fair kalau bandingin hanya dengan standar waktu saja. Semao’en adalah anak jamannya. Sama dengan Nicholas Saputra sekarang yang merupakan anak emas jaman kapitalis”

“Ya, Gue tahu, tahu banget malah. Tetapi lo, tahu juga kan bukan itu yang akan gue sampaiin? Jaman itu toh ada Tjokro”satria dibawah perlindungan pamarentah”, Gunawan “satria maling” atau ada Darsono “si tipis kuping”, semua kembali tentang pilihan toh”

“Lo pasti ingat bagaimana Semao’en setelah mengambil alih SI Semarang dari Muhammad Yusuf. SI Semarang berkembang pesat menjadi cabang Si terkuat dan menjadi kiblat bagi afdeling-afdeling SI lainnya. Sementara nun jauh di Eropa sana ditahun yang sama. Lenin menggerakan revolusi Bolshevik. Dan sialnya di Hindia, bumiputera disogok dengan permen rasa jeruk bernama Volksraad setahun sebelumnya “

Ah, siMbah niy, pasti dia dari semalam nggak tidur dan hanya belajar sejarah saja. Bakalan di telanjangi siMbah niy. “Bentar mbah!!” pamitku langsung ngacir kebelakang. Beres dengan toilet, tak sengaja kulirik kamar siMbah.

Wakakakakak…. ternyata ada yang baru bongkar-bongkar buku. Kulihat sepintas buku segede-gede bantal itu, ada edisi hard covernya Zaman Bergerak-nya Takashi Shiraishi, The Rise of Indonesian Communism-nya Ruth T Mc Vey, Nationalism and Revolution in Indonesia-nya Kahin dan beberapa buku tebal lainnya. Pantas, siMbah begitu PeDe nerocos. Hei.. apa itu tipis dan terselip sendiri. Aha.. Hikajat Kadiroen-kah? Yups.. Ah, makanya dari tadi udah curiga. Dengan buku tipis itu, terjawab sudah kenapa tiba-tiba siMbah ngobrolin Semao’en. Sip.

Pura-pura tak tahu bahwa semalam ada yang begadang, kuhampiri siMbah dengan niat baik membantu menuntaskan kangennya. Belum lagi pantat menempel sempurna di risban, semburan setengah keluh meluncur deras.

“Dasar gemblung, di sengi kandah malah minggat”

“Sabar Mbah, Sabar… Ayuh angger arep dhopokan gutul ngesuk bhe tek jabani kok. Ayuhh!!”

Ketika kata terakhir dari kalimat tersebut lepas dari bibir. Diam-diam sebersit penyesalan menyergap. Busyet, kenapa aku jadi sok banget siy. Udah tahu siMbah memang benar-benar menyiapkan pertempuran, kok aku jadi kepancing siy. Goblok..goblok..

“Yungggggg…. kopi loro, karo jiotna slepa neng blombokan”

Tuh..kan benar. Teriakannya barusan memanggil nenek untuk dua gelas kopi dan tembakau, hanya bertanda satu hal. Dia siap betul dengan obrolannya. Duh, duh..cilaka mencit. Dan lebih cilakanya lagi kalau sudah begini siMbah akan siap dengan 1001 dalil ngotot serta semangat cap fanatiknya ala pokoke. So, dimatanya tentulah Semaoen madu.

“SiMbah sampun maos Rancangan Ekonomi Negara dari Seorang Buruh?” siMbah bengong kaya sapi ompong, giginya yang tinggal dua nonggol disela rokok klobotnya. Wakakaka… Simbah belum baca. Horeee…hore… Simbah melirik, curiga matanya menggerling pada buku yang kupegang.

“Simbah baca dulu buku ini, nanti kita ngobrol lagi oke” ujarku penuh kemenangan dan membiarkan simbah KO melonggo. Direbutnya buku itu dari tanganku, diamat-amatinya covernya teliti. Merasa diatas angin kutambah lagi wejanganku.

“Mbah Semaoen bukan lagi Kadiroen idola Mbah’e. Alam merubahnya menjadi pecundang”

Disinilah simbah lupa. Pemikiran Semaoen bergeser sangat mendasar. Ia tidak lagi menjadi komunis, melainkan telah menjadi revisionis, cara pandang yang melihat adanya perubahan hubungan-hubungan kelas sejalan dengan kesuksesan membangun industrialisasi.

Lebih jauh, cita-cita Semaoen membentuk sistem ekonomi sosialistik melenceng dari realita saat itu. Saat itu Indonesia tidak menerapkan sistem masyarakat sosialis dan tidak sedang dalam tahap memasuki sosialisme. Semaoen Ge eR ketika, ketika Soekarno merangkul Partai Komunis Indonesia untuk menjalankan politik perlawanan terhadap imperialisme (Belanda, Amerika Serikat, Inggris). Tentu saja Soekarno tidak untuk membangun sosialisme.

Lagipula Semaoen dipilih menjadi anggota Dewan Ekonomi Nasional oleh Soekarno. Pemilihan ini didasarkan pada pengalaman Semaoen ketika ditunjuk oleh Joseph Stalin memimpin Badan Perancang Negara (Gozplan) di Tajikistan dengan pangkat Wakil III Perdana Menteri. Semaoen memang pernah tinggal cukup lama dan menjadi warga negara Uni Soviet setelah pembuangannya ke negeri Belanda tahun 1923. Dan belakangan Semaoen tak lebih menjadi revisionis yang berkompromi dengan ideologi yang diantutnya.

Dan tentunya meninggal dengan tenang di jaman damai.

Dombreng

Malam tanggal 7 November 1945, desa Cerih yang miskin dan hanya penghasil singkong di Tegal selatan bergolak. Warga desa itu marah. Marah? Ya, tentu saja mereka pantas marah, sehari sebelumnya mereka baru menguburkan saudara mereka yang dibunuh Kenpetai. Lalu, malamnya dengan kemarahan yang sama mereka mulai bergerakdan mengepung rumah lurahnya sendiri. Betul, mereka mengepung rumah Den Mas Harjowiyono. Tak cukup hanya dengan mengepung, mereka kemudian mengancam. Bila lurah tidak keluar, rumah itu akan di bakar.

Menjelang pagi barulah sang Den Mas Harjowiyono menampakkan dirinya di depan pintu. Berpakaian resmi dan dengan gaya khas birokrat feodal, dia masih sempat bertanya apa kesalahannya. Massa menjawab dengan tindakan, pakaian resminya dilucuti dan menggantinya dengan karung goni, sementara sang istri yang terbiasa berpakaian mewah dikalungi padi.

Diiringi dengan bunyi gamelan miliknya -yang melambangkan kedudukan dan kekuasaannya- sang Den Mas beserta istrinya diarak beramai-ramai keliling desa. Ya, mereka berdua dihinakan, dipaksa minum air mentah dari tempurung kelapa -begitu memang sehari-hari rakyat minum- dan dipaksa makan dedak. Yups, itulah dombreng. Sebuah ritual yang biasanya dikenakan pada para pencuri atau pejabat yang korup.

Tak berhenti hanya di Cerih, aksi warga itu menyulut aksi-aksi serupa di desa-desa lain di wilayah itu. Mereka bergerak dan mengabaikan sekat-sekat ideologi, agama, golongan atau kelompok. Ya, kromo itu serentak bangkit menghancurkan sumber penindasan dan penderitaannya selama ini.

Lebih jauh lagi, kemudian rakyat bergerak mengambil alih tanah bengkok atau tanah milik para tuan tanah dan dibagikan secara merata pada rakyat. Lumbung dan gudang yang selama masa pendudukan Jepang digunakan untuk menimbun makanan dibongkar. Anasir-anasir kolonial/feodal/fasis yang selama ini termanifestasikan dalam diri pangreh praja disingkirkan dan dirombak untuk diganti dengan badan pekerja yang lebih demokratis.

Apakah kita akan mengatakan mereka di mabukan kemerdekaan Sukarno-Hatta 17 Agustus sebelumnya? Tidak!! Mereka tidak sedang menghirup candu euforia merdeka ala Sukarno. Mereka, akar rumput itulah yang justru menunjukan arti sejati dari kemerdekaan.

Ya, merdeka berarti bebas. Bebas dari kelaparan, bebas dari ketakutan dan bebas dari tindasan. Mereka, tak merasa perlu berpikir lama untuk tahu siapa yang selama ini menindasnya. Karena penindasnya jelas, yakni aparatus semi feodal yang doyan berselingkuh dengan kekuasaan.

Ah, sayangnya kita semua tahu akhir cerita itu. Jakarta yang lembek itu akhirnya menyerah pada kuasa gerombolan TKR. Bukannya belajar tentang kehendak rakyat, mereka memilih menumpasnya. Ya, revolusi itu mati bahkan sebelum sempat menampilkan tunasnya. Dan selalu, kambing hitam tersedia. Komunis. Wakakakakaka…. Oiii Wake up guys!!

Udah Kok Merdekanya

I

Malam baru saja melewati puncaknya, secangkir kopi yang nyaris dingin belum habis disruput dan masih bersisa separuh. Berteman rokok merk tingwe klembak menyan malam menjadi sangat berkabut. Ya, tingwe menambah kabut dan sejujurnya membuat mual. Tetapi kupikir bolehlah sesekali memualkan diri, toh hanya mual.

Kata siMbah, menikmati tingwe yang mbekok’i, haruslah sabar. Asap harus dihisap pelan dan sedikit demi sedikit. Kalau tidak, tenggorokan akan tercekik dan paru-paru serasa bengkak mau meledak. Belum lagi, gliyengan yang kemudian merambat di kening. Tetapi dibanding mat-matannya, wuihhh… Sengsara itu impas.

Aroma tembakau, kemenyan, cengkeh dan klembak yang terbakar serasa membangkitkan kenangan. He eh, kenangan magis memanggil dhemit.

“Setan !! Sapa sing wengi-wengi udud menyan kiye. Arep semblothongan apa?”Busyeeeet..bukannya demit yang muncul, tetapi malah siMbah yang pecaca-pecucu komplain aroma menyan.“Goblok, kaya ‘ra ana rokok bener ‘pa, mbako setan di udud’i. Ngeneh nyong njaluk, semotan!!”

Tanpa ba-bi-bu rokok racikan yang kupegang diserobotnya. Dan mak buuulll..!!! Asap menggelontor dari mulut dan hidungnya. “Halah siMbah bikin kaget saja. Buntut-buntutnya ajeg, numpang nyedot”

Ah, simbah masih semau-mau saja. Seolah tak cukup merampok tingwe yang semata wayang, matanya melirik ke cangkirku. Dan sruup… tandaslah isinya.

“Merdeka mbah” ujarku asbun karena gondok.

“Merdeka gundulmu menyonyo!! Merdeka dari Hongkong” Simbah langsung nyolot sambil menirukan sebuah iklan rokok.

“Lah, bukannya kita memang merdeka toh” ujarku santai. “Setidaknya kemerdekaan yang dinyatakan Sukarno bagi bangsa ini adalah revolusi”

“Mimpi kamu, jika membayangkan merdeka 45 itu bak revolusi 1917 di lapangan merah. Ngomong begitu dasarnya apa goblok?”

Sialan niy siMbah, ngomong siy ngomong tapi kan nggak perlu bawa-bawa trade mark dong. Tak terima di goblok-goblokan, aku menangkis dengan nada tak kalah nyolotnya. “Lah bukankah keduanya sama-sama digerakkan oleh secuil elit. Lenin dan partainya itu minoritas, persis Sukarno-Hatta yang mengaku dan mengatasnamakan nasion Indonesia. Memangnya siapa yang memberi mandat pada mereka berdua. Nggak, nggak ada itu. Tetapi mereka berfikir, berembuk lalu memutuskan. Dan jangan lupa, momentum berpihak pada mereka”

Busyet-busyet, alamat bangunin macan tidur niy, pedahal setahuku macan mengaum hanya untuk menggigit.

“Ngerti apa koe, betul Lenin dan partainya adalah secuil elite. Tetapi toh mereka mewakili sebuah kelas yang selama ini tertindas, lagipula revolusi seperti 1917 adalah keniscayaan sejarah”

Tuh kan betul, macannya mulai pamer taring dan bersiap menggigit. Bahaya.. bahaya… Tetapi, berhubung terlanjur panas, sikat saja sekali-kali ngeyel ama orang tua mungkin tuhan tidak marah toh.

“SiMbah yang lupa!! SiMbah pikir merdeka ala Indonesia hanya berarti bagi Indonesia saja. No.. Noo!! Merdeka ala Sukarno juga kiniscayaan sejarah, sebagai anti-tesis dari kolonialisme. SiMbah lupa? Filipina kemudian merdeka tahun 46, Birma 47, Malaysia 57 dan walau telat, nyaris semua negeri di Afrika dan Amerika Latin merdeka pada era 60-an. Sempit bila berpikir merdeka 45 itu hanya berguna untuk Indonesia saja. Setidaknya proklamasi kita itu memberikan inspirasi bagi kemerdekaan mereka”

“Apun yang kau katakan, merdeka 45 mu itu tak lebih dari “mimpi” elit untuk punya pemerintahan sendiri. Bila semangatnya hanya lepas dari penjajahan bule, santai saja. Toh nyatanya bagi dunia yang bergerak cepat barang dagangan bernama kolonialisme itu sudah tak laku lagi”

“Dan si Sukarno ini kan…” seolah tak rela kehilangan kesempatan SiMbah melanjutkan terus, “si oportunis, bagi dia prinsipnya sederhana. Selamat dulu dari Jepang, Nica dan Sekutu, masalah nanti dipikirkan bagaimana nanti. Ya, dengan cara itu pemerintahan sendiri bisa di dapat. Tetapi pemerintah sendiri dengan rakyat yang separuhnya buta huruf apa bedanya dengan penjajahan lagi. Ingat kamu, ketika Jepang berbondong-bondong menyerbu dari utara? Apa yang dilakukan Sukarno ? Tak ada goblok. Alih-alih menjadi panutan, dia malah enak-enakan numpang kapal perang mereka untuk kembali ke Jakarta? Cukup itu? Belum, bahkan kemudian dengan gaya co-nya dia sukarela kerjasama toh. Hingga menyerahkan beratus-ratus ribu kromo menjadi romusha?”

Pelan-pelan kucerna kata-kata siMbah, banyak benarnya sih.

“Tetapi…..” Whueeeeek, pantes senyap ternyata setelah menghabiskan amunisi terakhirnya siMbah tertidur manis di risban kesayangannya.

II

Gabrukk!! Setumpuk buku terjun bebas dipangkuanku. Minggu pagi yang indah buyar dengan ceplosan siMbah.

“Angger kelalen waca maning kiye, kon ora goblok bae” Ah, siMbah ternyata masih masgul dengan obrolan semalam. Kutelisik satu-satu, Engels, Mark, Lenin dan karya Tan Malaka, busyeeet cape deeeh. Pethongsot, siMbah sudah didepanku. Dan seperti biasa berkuasa atas risban-nya.

“Sing mau mbengi ditutugna maning ayuh!!” Ujar siMbah setengah merayu.

“Apalagi Mbah!! Mbah mau bilangkan, bahwa semestinya bangsa ini berpikir seperti Tan Malaka dengan merdeka 100 percentnya, begitukan? Tetapi kondisi objektif apa yang memenuhi syarat? Nggak, bahkan siMbah juga tahu, pra-syarat itu tak pernah tercipta kan?”

“Sukarno mungkin benar, dia berpikir bayi prematur bernama Indonesia ini tak pantas mati muda. Bayi tanpa daya ini sama sekali tak bermodal, modal senjata dan tentara, kecuali sebagian eks-peta dan laskar-laskar yang bermodal semangat. Zonder angkatan laut dan angkatan udara. Sementara siapa yang dihadapi? Mc Arthur-kan? Ya, dia yang beberapa sebelumnya sukses menghajar pasukan kate dimedan pasific. Lalu taktik cerdik licik apa yang bisa dilakukan Sukarno cs selain berdiplomasi? Atau jangan-jangan siMbah justru menyarankan kita ber-masturbate dan membayangkan bambu runcing bisa merobek lapisan baja tank-tank sekutu? Mimpi!!”

“Kenapa tidak? Justru massa rakyat harus diberi suri-tauladan keteguhan hati menghadapi marabahaya toh? Lha ini, yang dipikirkan mereka kan hanya selamat saat itu, inilah pendidikan buruk?”

“Dengan kata lain siMbah waktu itu menginginkan tentara yang pegang kendali?”

“Itu kesimpulan bodoh dan Goblok!!” SiMbah kembali nyolot lagi, bahkan kali plus bonusnya. Yakni semprotan ludahnya plus aroma pete. Whueekkk.

“Pendidikan politik apa yang bisa didapat dari eks-peta yang jelas-jelas dididik secara fasis, atau ilmu apa yang bisa di unduh dari laskar-laskar yang fanatis itu. Tak ada sedangkan bila mengandalkan didikan KNIL jelas mereka apolitis dan bajingan toh!!”

“So?” Pertanyaanku sengaja aku gantung.

“Coba apa hasilnya ketika kita percayakan nasib bayi prematur bernama Indonesia ditangan para kompromis-kompromis itu. Pasca KMB kita dapat warisan utang dari Hindia Belanda 4 miliar dollar dan penangguhan penyerahan Irian kan? Yang terjadi kemudian apa? Eksperimen ala liberal alias proyek bagi-bagi kapling kan? Belum lagi ditambah dengan nafsu berkuasa Sukarno makin lama makin tak bisa ditutup-tutupinya toh?”

“Memangnya jalan yang ditawarkan Tan Malaka juga pasti obat yang mujarab, sama-sama petualangnya toh” Nggak tahu kenapa, aku menjadi ikut-ikutan siMbah yang mengakhiri kalimatnya dengan kata toh. Biar akrab kali ya…

“Bukan, bukan itu! Masa-masa mereka sudah lewat, dan tak lebih dari cacat sejarah, toh senyatanya kita tak bisa kita membaliknya. Biarkan para ahli sejarah saja yang meributkan masa-masa itu. Yang ingin kutahu pendapatmu adalah, bagaimana caramu memandang kedepan”

“Halah, sok merendah niy siMbah, mBah juga tahu bahwa justru masa-masa itulah yang akhirnya membentuk kekinian. Dan kekinianlah yang membentuk masa-masa depan”

“Ya, wis sekarepe ko’e bae, kaya kuwe ko’ ngotot pethentengan” ujar siMbah yang tumben-tumbenan kali ini turun drastis nada ngomongnya.

“Merdeka uwis, perang musuh Landa wis, perang karo bala dewek uwis , apa maning sing urung jajal”

(Ah, maaf ya sebetulnya si belum beres. Tetapi tahu sendiri kan kalau malas dan ngatuk datang bareng-barang. So, untuk sementara dicut-kan segini dulu. Nyambung kapan-kapan ya….)

Cablaka ala Banyumasan

“Setan !! Sapa sing wengi-wengi udud menyan kiye. Arep semblothongan apa?” “Setan !! Siapa yang malam-malam merokok kemenyan ini. Mau main-main apa?”

“Goblok, kaya ‘ra ana rokok bener ‘pa, mbako setan di udud’i. Ngeneh nyong njaluk, semotan!!” “Goblok, seperti nggak ada rokok biasa apa, tembakau setan di rokok. Sini aku minta sesedotan”

“Angger kelalen waca maning kiye, kon ora goblok bae” “Kalau lupa baca lagi ini, biar tidak goblok lagi”

“Sing mau mbengi ditutugna maning ayuh!!” “Yang tadi malam ayok dilanjut lagi”

“Ya, wis sekarepe ko’e bae, kaya kuwe ko’ ngotot pethentengan” “Ya, sekarang terserah kamu, begitu saja kok ngotot tarik urat”

“Merdeka uwis, perang musuh Landa wis, perang karo bala dewek uwis , apa maning sing urung jajal” “Merdeka sudah, parang melawan Belanda sudah, Perang dengan teman sendiri sudah, coba apalagi yang belum?”

Merdeka Lalu Apa?

“Proklamasi, Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaanya…..”

Suara barithon Sukarno mengalir hati-hati dan takut. Selain nadanya yang rendah isinyapun tak kalah lembut. Yups benar, pernyataan kemerdekaan yang di kumandangkan Sukarno jauh dari semangat menggugah dan menginspirasi. Dia dengan segala kapitulasinya akhirnya hanya bicara tentang pergantian kekuasan. Hanya pergantian bukan pembongkaran. Semuanya mengalir sepi dan senyap.

Tanpa bermaksud membandingkan, tetapi coba tengoklah Declaration of Independence atau Atlantic Charter yang tegas-tegas bicara tentang manusia. Bebas dari rasa takut, bebas dari rasa lapar dan bebas dari penindasan. Dan proklamasi 17 Agustus kita masih bersibuk-ria dengan kekuasaan politik?

Bila mereka hanya mampu bicara tentang kekuasaan dalam kesempatan pertamanya. Tentu kita memang harus marfum, bahwa mereka takut. Mereka memang pantas takut. Walau formalnya Jepang takluk, tetapi bayonet-bayonetnya toh masih telanjang dan beringas. Untuk Sukarno yang peragu, jelas ini adalah dilema.

Hatta dan atau Syahrir tak kalah takutnya, mereka juga produk dari jaman yang sama. Zaman Bergerak era 20-an. Dan di ditahun 1945 mereka telah menjadi generasi mapan, matang, njlimet dan cerdas dalam berkapitulasi. Plus Sukarno dengan cap co-di keningnya. Ya, co bisa berarti co-operator atau co yang dimaknai komprador atau pelayan kaum fasis.

Akan bergerak kemana bila sebuah revolusi dipimpin oleh kaum co-operator dan comprador? Revolusi?

Revolusi mestilah dipahami sebagai sebuah jembatan yang meniadakan batas antara kaya dan miskin, punya dan tak berpunya serta meleburkan masyarakat menjadi satu kesatuan ekonomi, sosial, politik, dan psikologis.

Dan dalam masa revolusilah tercapai puncak kekuatan moral, terlahir kecerdasan pikiran dan teraih segenap kemampuan untuk mendirikan masyarakat baru. Meminjam Tan Malaka dalam Massa Aksi. “Satu kelas dari suatu bangsa yang tidak mampu mengenyahkan peraturan-peraturan kolot serta perbudakan melalui revolusi, niscaya musnah atau terkutuk menjadi budak abadi”

Tul!! Sepakat boss.

Dan berkebalikan dengan yang dikatakan Tan Malaka, Sukarno cs terjebak dalam utopianya sendiri. Dan itulah yang dinyatakan lalu dipraktekan. Mereka bergerak setengah hati. Di atas bangkai yang lama berdirilah satu kekuasaan baru yang menang. Tanpa sadar, hantu kolonial dihempaskan. Sebagai gantinya dibagunlah kemodalan lokal, wajahnya boleh berbeda. Tetap saja semangatnya tetap sama, mencari untung dan memupuk modal.

So, peristwa Jumat, 17 Agustus 1945 pagi di jalan Pegangsaan Timur dimaknai seperti apa?

Begitulah Sukarno, Hatta, Syahrir dan elit-elite borjuis itu membajak revolusi sosial menjadi revolusi nasionalis borjouis yang walau berwajah nasional tetaplah menyimpan watak imperialis yang kental.

Tetapi, tentu massa boleh memilih jalannya sendiri. Gambar paling utuh yang memotret sikap gerak revolusi justru terjadi pada Peristiwa Tiga Daerah di Jawa Tengah. Massa rakyat memilih caranya sendiri. Cara yang dianggap terbaik dan paling pas untuknya. Ningrat dan quo di bongkar habis, dan tampilah kehendak bebas akar rumput. Mereka bersatu dan memutuskan melakukannya bersama.

Sayangnya bayi yang lahir terlalu cepat, kadang menyimpan potensi kematian cepatnya. Peristiwa tiga daerah itu pun mati bahkan sebelum tercatat dalam diary sejarah.

Bagaimana dengan sekarang, setalah 62 tahun sejak pertama kali merdeka itu dikumandangkan?

Merdeka. Ya, kita telah merdeka. Setidaknya begitu, bila penjajahan dimaknai penguasaan fisik oleh asing. Tetapi apakah kita telah merdeka dari penindasan? Belum, ibarat lepas dari mulut buaya masuk kemulut harimau. Jepang, Hindia Belanda atau Nica memang telah masuk musium. Walau begitu cerita tentang penindasan tak serta-merta ikut masuk musium.

Tanpa bermaksud mengecilkan artinya, kemerdekaan sekarang telah menjadi sebenar-benarnya laizzes faire. Lalu apa ?

Sukarno, Hatta, Syahrir dan aktor-aktor utama di tahun 45, tak lebih hanya sedang melakoni peran kesejarahan saja. Ya, pada akhirnya tetap kitalah yang menentukan mau kemana kita akan melangkah.