Marah
Aku marah, karena tak berdaya. Aku sedih, karena tak berguna. Aku menangis, lalu berteriak karena tak kuasa. Kau pun tahu. Ketika aku berdiri, aku goyah. Ketika aku duduk, aku tersandar. Ketika aku tertidur, aku lunglai. Aku menjawab takdirku dengan menjemput marah dan menyematkannya menjadi mahkota.
Selalu ada api menjalari dadaku. Pelan dan pasti, hangat berubah menjadi panas yang mendidihkan. Pedih itu, sakit itu, nyeri itu, tak ingin kumengerti lagi rasanya. Aku tak ingin mengigatnya. Seperti Majnun yang terbakar dan mendendangkan nama Laila sepanjang jalannya. Aku ingin membakar kenangannya. Membakarnya menjadi abu yang tak berbekas dan kutiupkan pada badai yang berjanji menjemput.
baca lanjut...
baca lanjut...
0 komentar:
Post a Comment