Mencarimu
Ta, terakhir aku meyapamu adalah malam berhujan ratusan hari lampau. Menggelitik dan kemudian menyapamu dengan bahasa sederhana yang bisu dan sunyi. Bahasa yang selalu menambah arti pada setiap maknanya. Waktu itu kau hanya kamu tersenyum mencoba memahami. Memahami semua gejolak ketelanjanganku yang dibangkitkan kegelapan adalah penyerahan.
Ta, waktu itu aku mungkin terlambat menyadari, kaulah kebaikanku. Hingga ketika paginya aku bangun. Ku temukan diriku tergeletak ditaman yang indah. Kau masih ada disampingku menyadarkan. Aku menyangka aku telah berada di surga. Surga yang menghibur dan memanjakanku dengan tetabuhannya. Hingga akhirnya kudengar kau menghardikku keras, "Pergilah dan basuhlah wajahmu dengan air pancuran itu."
baca lanjut...
baca lanjut...
0 komentar:
Post a Comment