Mengenang Jaman Maling Berpesta
Waktu itu 2 Juli 1997 dan bermula dari Thailand. Thanong Bidaya, sang menteri keuangan negeri gajah putih nyaris tak bisa memejamkan mata. Benaknya gelisah dan konsentrasinya tak pernah lepas dari pasar uang. Betul, saat itu memang genting. Bath menjadi bulan-bulan spekulan, menjelang siang akhirnya Thanong menyerah pada pasar. Ya, Thanong terpaksa melepas Bath pada mekanisme pasar. Laiknya bendungan yang tadinya hanya bocor dan akhirnya jebol, dari Thailand, krisis kemudian menjalar keseluruh Asia Tenggara dan menghancur leburkan bagunan ekonomi yang tadinya diyakini tak bakalan goyang oleh sekedar krisis. Bola salju itu menggelinding terus.
Peristiwa itu memang telah lewat sepuluh tahun. Tetapi, dampak merusaknya, seperti baru kemarin kita merasainya. Disini badai masihlah berupa angin sepoi-sepoi saja. Semua tenang, aman terkendali, semua percaya diri. Bahkan Bapak- masih dengan senyumnya yang khas berkata jumawa, "Badai Pasti Berlalu".
Dan angin sepoi-sepoi itu terus menambah kecepatannya hingga menjadi badai besar yang merusakan semua sendi-sendi. Sekitar 20 juta orang tiba-tiba menjadi penganggur, rupiah terjun bebas dari Rp 2400 perdollar menjadi Rp 17 ribu di awal Januari 1998. Suku bunga melejit sampai 70 persen. Ratusan perusahaan gulung tukar dan utang luar negeri tiba-tiba menjadi segede gajah bengkak. lanjut baca...
0 komentar:
Post a Comment