Larung
Bosanku hidup ditanah sangar ini, negeri senja, uzur dan penuh koreng bernanah. Negeri yang rapuh oleh compang-campingnya marah dan selalu tak pernah merasa puas oleh apinya. Negeri yang selalu terkutuk dan dikutuk oleh pengabaian tuhannya.
Sering kali aku memilih merenggutkan diri dan meloncat turun dari gendongan. Mencoba memanggulnya dipundak dan memilih berhenti menyapa. Aku juga bosan menyapa terbitnya matahari yang rutin dan menjemukan. Matahari di negeri sekarat seperti ini tetaplah berpihak pada penguasa.
Aku selalu minta maaf sepenuh hati padamu, karena mimpi-mimpi kita mesti terpisah disimpang jalan yang membingungkan. Aku juda minta maaf membayangkan Kau berdiri menyambutku setiap matahari terik diatas gugusan pulau-pulau. Menebar darah dan melarungnya sekaligus, bersama sakit hatinya.
0 komentar:
Post a Comment