Dombreng
Malam tanggal 7 November 1945, desa Cerih yang miskin dan hanya penghasil singkong di Tegal selatan bergolak. Warga desa itu marah. Marah? Ya, tentu saja mereka pantas marah, sehari sebelumnya mereka baru menguburkan saudara mereka yang dibunuh Kenpetai. Lalu, malamnya dengan kemarahan yang sama mereka mulai bergerakdan mengepung rumah lurahnya sendiri. Betul, mereka mengepung rumah Den Mas Harjowiyono. Tak cukup hanya dengan mengepung, mereka kemudian mengancam. Bila lurah tidak keluar, rumah itu akan di bakar.
Menjelang pagi barulah sang Den Mas Harjowiyono menampakkan dirinya di depan pintu. Berpakaian resmi dan dengan gaya khas birokrat feodal, dia masih sempat bertanya apa kesalahannya. Massa menjawab dengan tindakan, pakaian resminya dilucuti dan menggantinya dengan karung goni, sementara sang istri yang terbiasa berpakaian mewah dikalungi padi.
Diiringi dengan bunyi gamelan miliknya -yang melambangkan kedudukan dan kekuasaannya- sang Den Mas beserta istrinya diarak beramai-ramai keliling desa. Ya, mereka berdua dihinakan, dipaksa minum air mentah dari tempurung kelapa -begitu memang sehari-hari rakyat minum- dan dipaksa makan dedak. Yups, itulah dombreng. Sebuah ritual yang biasanya dikenakan pada para pencuri atau pejabat yang korup.
Tak berhenti hanya di Cerih, aksi warga itu menyulut aksi-aksi serupa di desa-desa lain di wilayah itu. Mereka bergerak dan mengabaikan sekat-sekat ideologi, agama, golongan atau kelompok. Ya, kromo itu serentak bangkit menghancurkan sumber penindasan dan penderitaannya selama ini.
Lebih jauh lagi, kemudian rakyat bergerak mengambil alih tanah bengkok atau tanah milik para tuan tanah dan dibagikan secara merata pada rakyat. Lumbung dan gudang yang selama masa pendudukan Jepang digunakan untuk menimbun makanan dibongkar. Anasir-anasir kolonial/feodal/fasis yang selama ini termanifestasikan dalam diri pangreh praja disingkirkan dan dirombak untuk diganti dengan badan pekerja yang lebih demokratis.
Apakah kita akan mengatakan mereka di mabukan kemerdekaan Sukarno-Hatta 17 Agustus sebelumnya? Tidak!! Mereka tidak sedang menghirup candu euforia merdeka ala Sukarno. Mereka, akar rumput itulah yang justru menunjukan arti sejati dari kemerdekaan.
Ya, merdeka berarti bebas. Bebas dari kelaparan, bebas dari ketakutan dan bebas dari tindasan. Mereka, tak merasa perlu berpikir lama untuk tahu siapa yang selama ini menindasnya. Karena penindasnya jelas, yakni aparatus semi feodal yang doyan berselingkuh dengan kekuasaan.
Ah, sayangnya kita semua tahu akhir cerita itu. Jakarta yang lembek itu akhirnya menyerah pada kuasa gerombolan TKR. Bukannya belajar tentang kehendak rakyat, mereka memilih menumpasnya. Ya, revolusi itu mati bahkan sebelum sempat menampilkan tunasnya. Dan selalu, kambing hitam tersedia. Komunis. Wakakakakaka…. Oiii Wake up guys!!
0 komentar:
Post a Comment