Kadiroen
“Waktu mengambil alih SI Semarang di tahun 1917, dia baru delapan belas tahun. Bayangkan delapan belas tahun!! Separo umur dari Tjokro, boss CSI -satria dalem perlindungan pamerentah-, seumurnya Darsono dan Tan Malaka. Aku takon? Kowe lagi ngapa ketika umur delapan belas tahun? Pacaran ? Apa malah lagi demen-demen’e nguntal pil koplo karo beksan gaya keratonan ?”
Ah, ini mBahku lagi. Masih biasa, ceblang-ceblung gaya cablaka khas Banyumasan. Nuwun sewu poro piyantun, saking Ngayogjo lan Surokarto ingkang langkung karem angglembuk lan andremimih. Maklum siMbah meniko asli putro tanah perdikan kang mboten kagungan sultan, dados nek angendiko namung waton mangap. Tetapi berhubung topiknya bagus, kulayani uneg-uneg siMbah plus sumpah serapah ala kebon binatangnya.
Semao’en ya? Semao’en… ? Treeeett….treeeet… procecor pentium I , out to date di otakku bekerja keras. Lahir di di Mojokerto 1899, anak tukang batu di jawatan kereta api, gabung SI Surabaya ketika masih 14 tahun, berbelok ke ISDV dan VSTP afdeling Surabaya, jurnalis, terus pindah ke Semarang lalu di buang ke Belanda, berteman akrab dengan Stalin dan wafat 1971. Sip!! Lumayan.
Memancing siMbah kulempar pernyataan norak.
“SiMbah kelalen apa? Selain dia memang genius dia juga bertemu dan dididik oleh orang-orang top dijamannya. HW Dekker dan Snevliet si “Belanda dengan sifat manusiawinya yang tulus dan bebas dari mentalitas kolonial” jatuh hati pada jagoan kita kan? Merekalah yang memahat kayu mentah itu menjadi ukiran yang indah. SiMbah dimana jaman-jaman itu. Ikutan BO? Wakakakaka!!!!”
“Weduuuus gimbal, luthung gemblung!! Segoblok-gobloknya siMbahmu ini, sorry ya ikut perkumpulan jawa narsis geblek itu”
He…he…Tepatkan pembaca!! Simbah langsung meledak bila dikait-kaitkan dengan kejawaanya. Apalagi dikaitkan dengan cita-cita Jawa Raya.
“Lalu Mbah mau cerita apa tentang Semao’en ini?” tanyaku pura-pura bego aja.
“Gak, gue cuma pengin bandingin tokoh kita ini, dengan genre MTV dan sinetron jaman ini. Dia delapan belas tahun sudah bergerak mencitakan Hindia untuk Hindia. Sementara generasi sekarang. Seumuran itu kalau nggak tawuran, ya memilih berurai airmata di depan TV”
Wakakak, Gue? Memanggil dirinya sendiri dengan gue? Kumat apa niy siMbah? Jangankan menjadi Batavian, menyebut Jakarta saja siMbah sudah alergi setengah mati dan memilih menyebut Sunda Kelapa. So, ada angin apa Mbah?
Oke, forgeted angin yang lagi meniup siMbah, kembali ke tokoh kita, aku menyahuti komentar terakhir simbah begini ; “SiMbah nggak fair kalau bandingin hanya dengan standar waktu saja. Semao’en adalah anak jamannya. Sama dengan Nicholas Saputra sekarang yang merupakan anak emas jaman kapitalis”
“Ya, Gue tahu, tahu banget malah. Tetapi lo, tahu juga kan bukan itu yang akan gue sampaiin? Jaman itu toh ada Tjokro”satria dibawah perlindungan pamarentah”, Gunawan “satria maling” atau ada Darsono “si tipis kuping”, semua kembali tentang pilihan toh”
“Lo pasti ingat bagaimana Semao’en setelah mengambil alih SI Semarang dari Muhammad Yusuf. SI Semarang berkembang pesat menjadi cabang Si terkuat dan menjadi kiblat bagi afdeling-afdeling SI lainnya. Sementara nun jauh di Eropa sana ditahun yang sama. Lenin menggerakan revolusi Bolshevik. Dan sialnya di Hindia, bumiputera disogok dengan permen rasa jeruk bernama Volksraad setahun sebelumnya “
Ah, siMbah niy, pasti dia dari semalam nggak tidur dan hanya belajar sejarah saja. Bakalan di telanjangi siMbah niy. “Bentar mbah!!” pamitku langsung ngacir kebelakang. Beres dengan toilet, tak sengaja kulirik kamar siMbah.
Wakakakakak…. ternyata ada yang baru bongkar-bongkar buku. Kulihat sepintas buku segede-gede bantal itu, ada edisi hard covernya Zaman Bergerak-nya Takashi Shiraishi, The Rise of Indonesian Communism-nya Ruth T Mc Vey, Nationalism and Revolution in Indonesia-nya Kahin dan beberapa buku tebal lainnya. Pantas, siMbah begitu PeDe nerocos. Hei.. apa itu tipis dan terselip sendiri. Aha.. Hikajat Kadiroen-kah? Yups.. Ah, makanya dari tadi udah curiga. Dengan buku tipis itu, terjawab sudah kenapa tiba-tiba siMbah ngobrolin Semao’en. Sip.
Pura-pura tak tahu bahwa semalam ada yang begadang, kuhampiri siMbah dengan niat baik membantu menuntaskan kangennya. Belum lagi pantat menempel sempurna di risban, semburan setengah keluh meluncur deras.
“Dasar gemblung, di sengi kandah malah minggat”
“Sabar Mbah, Sabar… Ayuh angger arep dhopokan gutul ngesuk bhe tek jabani kok. Ayuhh!!”
Ketika kata terakhir dari kalimat tersebut lepas dari bibir. Diam-diam sebersit penyesalan menyergap. Busyet, kenapa aku jadi sok banget siy. Udah tahu siMbah memang benar-benar menyiapkan pertempuran, kok aku jadi kepancing siy. Goblok..goblok..
“Yungggggg…. kopi loro, karo jiotna slepa neng blombokan”
Tuh..kan benar. Teriakannya barusan memanggil nenek untuk dua gelas kopi dan tembakau, hanya bertanda satu hal. Dia siap betul dengan obrolannya. Duh, duh..cilaka mencit. Dan lebih cilakanya lagi kalau sudah begini siMbah akan siap dengan 1001 dalil ngotot serta semangat cap fanatiknya ala pokoke. So, dimatanya tentulah Semaoen madu.
“SiMbah sampun maos Rancangan Ekonomi Negara dari Seorang Buruh?” siMbah bengong kaya sapi ompong, giginya yang tinggal dua nonggol disela rokok klobotnya. Wakakaka… Simbah belum baca. Horeee…hore… Simbah melirik, curiga matanya menggerling pada buku yang kupegang.
“Simbah baca dulu buku ini, nanti kita ngobrol lagi oke” ujarku penuh kemenangan dan membiarkan simbah KO melonggo. Direbutnya buku itu dari tanganku, diamat-amatinya covernya teliti. Merasa diatas angin kutambah lagi wejanganku.
“Mbah Semaoen bukan lagi Kadiroen idola Mbah’e. Alam merubahnya menjadi pecundang”
Disinilah simbah lupa. Pemikiran Semaoen bergeser sangat mendasar. Ia tidak lagi menjadi komunis, melainkan telah menjadi revisionis, cara pandang yang melihat adanya perubahan hubungan-hubungan kelas sejalan dengan kesuksesan membangun industrialisasi.
Lebih jauh, cita-cita Semaoen membentuk sistem ekonomi sosialistik melenceng dari realita saat itu. Saat itu Indonesia tidak menerapkan sistem masyarakat sosialis dan tidak sedang dalam tahap memasuki sosialisme. Semaoen Ge eR ketika, ketika Soekarno merangkul Partai Komunis Indonesia untuk menjalankan politik perlawanan terhadap imperialisme (Belanda, Amerika Serikat, Inggris). Tentu saja Soekarno tidak untuk membangun sosialisme.
Lagipula Semaoen dipilih menjadi anggota Dewan Ekonomi Nasional oleh Soekarno. Pemilihan ini didasarkan pada pengalaman Semaoen ketika ditunjuk oleh Joseph Stalin memimpin Badan Perancang Negara (Gozplan) di Tajikistan dengan pangkat Wakil III Perdana Menteri. Semaoen memang pernah tinggal cukup lama dan menjadi warga negara Uni Soviet setelah pembuangannya ke negeri Belanda tahun 1923. Dan belakangan Semaoen tak lebih menjadi revisionis yang berkompromi dengan ideologi yang diantutnya.
Dan tentunya meninggal dengan tenang di jaman damai.
0 komentar:
Post a Comment