Masku
“Aku kegep Guh” ujarnya pelan sambil menunduk. Entahlah, mungkin ingin menyembunyikan matanya yang tiba-tiba basah, atau lebam biru-biru diwajahnya.
“Kok bisa?” aku bertanya o’on.
“Mbuhlah ‘ra mudeng”
Bencana itu bermula dari kedatangan bosnya. Jhonsen pengusaha kakap di Dumai. Seperti biasa, dialah yang kemudian menjadi pemandunya selama di Jakarta. Setelah beres urusan menjelang tengah malam. Dia pamit sebentar. “Ketemu teman” begitu ijinnya.
Sebuah paket dari Erwin diterimanya di Hayamwuruk. Baru kemudian dia bergegas meluncur ke Ancol menggunakan taksi. Mobil ditinggal di basement Ibis Mangga Dua.
“Bajingan Erwin jebul’e cepu” rutuknya. Tentu saja, di Ancol dia sudah di sanggon preman. Setelah paket berisi seribu butir vitamin aman berpindah tangan. Dia digep menjelang taksinya memamasuki pintu tol. Hujan pukulan tentu saja. Dan gagang beceng berjejak di keningnya dengan warna biru menghitam.
Semuanya kemudian menjadi tak mudah lagi sejak itu. Anak pertamanya diungsikan ke pesantren karena malu. Bungsunya rawat inap di Husada sebulan karena sawananti. Dan istrinya bertambah kurus pontang-panting cari biaya. Dia sendiri setelah menginap dua bulan di polres Jakarta Utara babak belur dan pindah ke Salemba dengan menganthongi delapan tahun vonisnya.
Kau kenal dia Guh, BeDe dari kota itu? Penjahat itu yang nongol di liputan enam siang?
Tentu saja aku kenal dia. Dia kakak iparku. BeDe? Penjahat? Persetan sebutan itu!! Dia kakakku. Dia baik padaku dan baik pada semua orang. Akan tetap begitu. Dan tetap kakakku. Selamanya. Dialah yang selalu kuanggap malaikatku. Malaikat yang selalu ada ketika dibutuhkan.
Dialah yang mengulurkan tangan ketika di keningku bercap gagang revolver. Aku lebih beruntung. Iwan di disetrum dan bang Rizal di kaing dengan tubuh berlubang-lubang. Ya, dua q sayur memang layak dipertaruhkan.
0 komentar:
Post a Comment