Merdeka Lalu Apa?
“Proklamasi, Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaanya…..”
Suara barithon Sukarno mengalir hati-hati dan takut. Selain nadanya yang rendah isinyapun tak kalah lembut. Yups benar, pernyataan kemerdekaan yang di kumandangkan Sukarno jauh dari semangat menggugah dan menginspirasi. Dia dengan segala kapitulasinya akhirnya hanya bicara tentang pergantian kekuasan. Hanya pergantian bukan pembongkaran. Semuanya mengalir sepi dan senyap.
Tanpa bermaksud membandingkan, tetapi coba tengoklah Declaration of Independence atau Atlantic Charter yang tegas-tegas bicara tentang manusia. Bebas dari rasa takut, bebas dari rasa lapar dan bebas dari penindasan. Dan proklamasi 17 Agustus kita masih bersibuk-ria dengan kekuasaan politik?
Bila mereka hanya mampu bicara tentang kekuasaan dalam kesempatan pertamanya. Tentu kita memang harus marfum, bahwa mereka takut. Mereka memang pantas takut. Walau formalnya Jepang takluk, tetapi bayonet-bayonetnya toh masih telanjang dan beringas. Untuk Sukarno yang peragu, jelas ini adalah dilema.
Hatta dan atau Syahrir tak kalah takutnya, mereka juga produk dari jaman yang sama. Zaman Bergerak era 20-an. Dan di ditahun 1945 mereka telah menjadi generasi mapan, matang, njlimet dan cerdas dalam berkapitulasi. Plus Sukarno dengan cap co-di keningnya. Ya, co bisa berarti co-operator atau co yang dimaknai komprador atau pelayan kaum fasis.
Akan bergerak kemana bila sebuah revolusi dipimpin oleh kaum co-operator dan comprador? Revolusi?
Revolusi mestilah dipahami sebagai sebuah jembatan yang meniadakan batas antara kaya dan miskin, punya dan tak berpunya serta meleburkan masyarakat menjadi satu kesatuan ekonomi, sosial, politik, dan psikologis.
Dan dalam masa revolusilah tercapai puncak kekuatan moral, terlahir kecerdasan pikiran dan teraih segenap kemampuan untuk mendirikan masyarakat baru. Meminjam Tan Malaka dalam Massa Aksi. “Satu kelas dari suatu bangsa yang tidak mampu mengenyahkan peraturan-peraturan kolot serta perbudakan melalui revolusi, niscaya musnah atau terkutuk menjadi budak abadi”
Tul!! Sepakat boss.
Dan berkebalikan dengan yang dikatakan Tan Malaka, Sukarno cs terjebak dalam utopianya sendiri. Dan itulah yang dinyatakan lalu dipraktekan. Mereka bergerak setengah hati. Di atas bangkai yang lama berdirilah satu kekuasaan baru yang menang. Tanpa sadar, hantu kolonial dihempaskan. Sebagai gantinya dibagunlah kemodalan lokal, wajahnya boleh berbeda. Tetap saja semangatnya tetap sama, mencari untung dan memupuk modal.
So, peristwa Jumat, 17 Agustus 1945 pagi di jalan Pegangsaan Timur dimaknai seperti apa?
Begitulah Sukarno, Hatta, Syahrir dan elit-elite borjuis itu membajak revolusi sosial menjadi revolusi nasionalis borjouis yang walau berwajah nasional tetaplah menyimpan watak imperialis yang kental.
Tetapi, tentu massa boleh memilih jalannya sendiri. Gambar paling utuh yang memotret sikap gerak revolusi justru terjadi pada Peristiwa Tiga Daerah di Jawa Tengah. Massa rakyat memilih caranya sendiri. Cara yang dianggap terbaik dan paling pas untuknya. Ningrat dan quo di bongkar habis, dan tampilah kehendak bebas akar rumput. Mereka bersatu dan memutuskan melakukannya bersama.
Sayangnya bayi yang lahir terlalu cepat, kadang menyimpan potensi kematian cepatnya. Peristiwa tiga daerah itu pun mati bahkan sebelum tercatat dalam diary sejarah.
Bagaimana dengan sekarang, setalah 62 tahun sejak pertama kali merdeka itu dikumandangkan?
Merdeka. Ya, kita telah merdeka. Setidaknya begitu, bila penjajahan dimaknai penguasaan fisik oleh asing. Tetapi apakah kita telah merdeka dari penindasan? Belum, ibarat lepas dari mulut buaya masuk kemulut harimau. Jepang, Hindia Belanda atau Nica memang telah masuk musium. Walau begitu cerita tentang penindasan tak serta-merta ikut masuk musium.
Tanpa bermaksud mengecilkan artinya, kemerdekaan sekarang telah menjadi sebenar-benarnya laizzes faire. Lalu apa ?
Sukarno, Hatta, Syahrir dan aktor-aktor utama di tahun 45, tak lebih hanya sedang melakoni peran kesejarahan saja. Ya, pada akhirnya tetap kitalah yang menentukan mau kemana kita akan melangkah.
0 komentar:
Post a Comment